mamah
Dulu, ada sepenggal kalimat yang diucapkan kakak saya, ketika saya lagi berselisih paham sama nyokap.
“hahahaha….lo akan tau rasanya nanti, kalau lo udah jadi nyokap”
Kalimat itu nggak diucapkan dengan nada tinggi, mengancam, ataupun marah. Nada seorang teman yang memberitahu dengan kasih sayang.
Disaat yang bersamaan, rasa kesal karena maksud hati tidak tersampaikan dengan benar (ketutup sama emosi) ke nyokap membuat saya sebal. Sebal sama diri sendiri, dan sebal karna setengahnya sedih ada hal yang tak beliau mengerti dan ingin ia mengerti. Ya begitulah..
Lelaki disebelah saya berkata:
“Sekeras-kerasnya kalimat yang dikeluarkan seorang ibu, aku yakin nggak pernah ada maksud beliau mencelakai. Hitung berapa banyak kemarahan beliau, lalu hitung berapa banyak kasih yang sudah dia berikan. Sekeras itu ia, karna ia sayang sama kamu”
Ditengah itulah seketika emosi saya habis. Nggak hilang, tapi menyurut. Bukan karena status pria yang menyampaikan kalimat tersebut. Tapi tiba-tiba saya teringat betapa sekuat tenaga-nya lelaki disebelah saya berusaha mendahulukan ibunya. Lalu, saya teringat wajah ibu saya disuatu malam ketika ibu saya menghampiri saya dengan air mata berlinang. Disaat jempol saya patah, dan saya sedang bercerita terbata ke kakak. Salah satu “the lowest moment of my personal life”
Secara pribadi, saya jarang bercerita. Cenderung menyimpan semua di otak dan hati. Dan disaat itu, semua cerita mengalir begitu aja. Beliau tidak berkata apa-apa. Cuma bergetar hebat dan memeluk saya dengan kencang. Benar-benar tidak ada kalimat, hanya tangisan berat memburu. Gilak, rasa nya tuh campuraduk kayak es cendol dicampur nasi padang :p
These few years, seringkali ketika saya berada dalam satu situasi saya selalu teringat nyokap. Saya mengingat-ingat kira-kira apa yah yang akan dilakukan nyokap saat berada dalam posisi saya? Atau, tiba-tiba saja terbatin “dyemm, begini nih perasaan yang nyokap pernah bilang”
Atau ditengah-tengah kesibukan dan berusaha sekuat tenaga mengatur jobdesk baru dan menyesuaikannya dengan kebiasaan saat masih sendiri, seringkali saya membatin “geezz, i wonder how my mother could manage such things and task perfectly??” hahahahahahah… nyokap kita itu lebih dari luarrbiasaaaaaaaaaa kebisaannyaa….
Mungkin ya karena kehidupan sebagai seorang istri dan pribadi yang terpisah itu lumayan baru buat sayahh.
Atau mungkin semakin bertambahnya umur, dan berbagi hari dengan orang yang lebih tua ( isi otaknya :p ) membuat saya lebih sering terfikir soal ibu, mamah yang sedari kecil teramat sangat sayang sama anak bengal nya ini. Compare to others, you can count me in to someone who have not done anything to repay her love and prays. I merely focused myself to matters that didn’t even last forever. I focused too much to person who i need not to. And to this very moment i can’t even give her something to smile upon to
oh whatta daughter! :p
Satu kalimat suami yang terngiang-ngiang ditelinga adalah:
” ingatlah, semakin bertambah angka pada umurmu maka semakin berkurang pula jatah umur nyokap. dan makin sempit waktu kita untuk berbakti dan menyenangkan hati orangtua”
#plak!#plak!#plak!#jlebbb . begitulah hastag yang paling tepat untuk postingan ini ^^

